Lorong waktu, kita tak akan pernah kembali pada waktu yang sudah terlewat

Belajar hidup sotoy ala Petruk

“Sotoy lo” sering dong denger umpatan gtu ! kalau Otoy pernah denger juga dong ? bagi yang suka baca komik sih pastinya tahu, tapi kalau saya sendiri kenal tokoh Otoy  itu dari Koran harian terbitan Ibukota yang biasanya iklannya berjibun sampai beberapa halaman, terutama iklan lowongan pekerjaan, tokoh Si Otoy ini biasanya ada di halaman bergambar yang terbit bersama tokoh Doyok.

Buat saya sendiri tokoh Otoy cukup mewakili kebanyakan pemuda indonesia yang selama ini galau pada kondisi yang dihadapi. Keluar masuk kantor menawarkan nama, namun selalu ditolak dan akhirnya menjadi pengangguran produktif, dengan melakukan apapun yang penting bisa mendapatkan sekepeng rupiah.

Dalam tokoh pewayangan, otoy ini bagi saya mirip dengan tokoh ‘Petruk”. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh ini. Seorang punakawan yang selalu menjadi tokoh yang dijadikan ‘korban’ pada setiap lakon yang ada. Namun nasib yag dialami petruk bukan tidak bisa dijadikan contoh hidup, karena ilmu dari Petruk ini merupakan ilmu hidup (lelakon) yang sangat sederhana yang bisa diteladani setiap orang.

Indahnya gunung, untuk menikmatinya perlu perjuangan mendaki

Indahnya gunung, untuk menikmatinya perlu perjuangan mendaki

Bagi Petruk, hidup ini ada kalanya beruntung dan ada kalanya mengalami musibah atau kerugian. Ada hidup dan ada mati, ada saatnya senang, dan bisa juga susah. Jika dalam kondisi mampu (kaya), janganlah hanya bersenang-senang dan berfoya-foya, dan jangan senang sendiri. Dan apabila dalam keadaan tidak mampu (miskin) janganlah merasa susah.

Senangnya sedikit, banyak susahnya. Ketika kita sepertinya susah, padahal kita merasa bahagia. Saat orang lain merasa bahwa kita ini kelihatan bahagia, ternyata kita merasa susah. Berlimpah harta benda itu belum tentu bahagia. Dan miskin harta juga belum tentu susah. Susah dan senang tidak dapat hanya dilihat dari luar. Namun, susah dan senang itu hanya kita yang bisa dirasakan sendiri.

Hidup jangan hanya meminta, tetapi harus bekerja dan berusaha. Saat kita lapar bukan hanya sekedar merintih lapar, tapi berusaha bagaimana kita bisa mendapatkan beras untuk dimasak sehingga menjadi nasi, hingga nasi itu bisa dimakan dengan lauknya. Perjuangan untuk mendapatkan nasi dan lauk itulah usaha yang harus dilakukan.

Tidak semua yang ingin kita dapatkan penuh jalan yang mulus bersih

Tidak semua yang ingin kita dapatkan penuh jalan yang mulus bersih

Jika haus, minumlah. Jika lapar, makanlah. Jika capek, istirahatlah. Jika mengantuk, tidurlah. Maksudnya adalah lakukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan. Meletakan sesuatu semua pada tempatnya, sesuai dengan takarannya.

Kebahagiaan itu hanya diri kita sendiri yang tahu, jika seseorang diberikan kemiskinan, belum tentu dia merasa susah. Begitu pula ketika seorang menjadi kaya raya, belum tentu pula mereka merasa bahagia, apalagi jika mereka tidak menikmati kekayaannya karena waktunya dihabiskan untuk mengumpulkan harta bendanya. Orang lain hanya melihat dari luar apa yang terjadi pada diri kita. Namun, kebahagiaan kita hanya diri kita sendirilah yang mengetahuinya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s